06 Maret 2013

Semuanya bagi Kepentingan Tuhan


Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya memiliki satu kaki kecil dengan dua jari, yang tumbuh dari paha kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat.

Namun, ketika sudah bersekolah, tak urung kekurangan fisiknya menjadi pusat olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya. Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia pernah mencoba bunuh diri.

masa kecil Nick Vujicic

Pada "waktu Tuhan" yang tepat, ia dimampukan untuk melihat hidupnya dengan cara pandang baru, bahwa dalam kondisinya itu Tuhan justru dapat memakainya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan di banyak negara.

"Jika saya dapat memercayai Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam keadaan Anda," simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak pencapaian, bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang normal.

Nick Vujicic pada hari pernikahannya

Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan untuk kepentingan Tuhan. Apa pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Tuhan pun dinyatakan di dalam dia.

Kini giliran kita. Tujuan hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita. Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian. Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya. —AW

Setiap hidup pasti berguna, bila diberikan menjadi tempat Tuhan berkarya.

* * *

Sumber: e-RH, 16/5/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Bagi Kepentingan Tuhan

==========

16 Februari 2013

Mengasihi Orang Gila


Badannya tegap dan hatinya lembut. Umurnya sudah 50-an. Ia mengurusi orang gila yang berkeliaran di jalan. Ia membawa mereka ke rumahnya, dan memandikan mereka sampai bersih.

Dengan dibantu istri dan beberapa pegawai, ia lalu membimbing orang-orang itu dengan sabar dan tekun sampai mereka kembali hidup normal.


Ia berkarya tanpa pamrih, tanpa menuntut imbalan. Ia merindukan jiwa-jiwa itu mengalami keselamatan dan pembebasan. Jerih lelahnya tergantikan oleh sukacita saat menyaksikan mereka menyambut kasih Tuhan dan dipulihkan.

Tidak semua orang memiliki kasih seperti ini. Kasih yang tidak mengharapkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Mungkin kita berpikir, untuk apa bersusah-payah mengurusi orang yang tidak kita kenal dan tidak waras seperti itu, sedangkan hidup kita saja sudah banyak masalah.

Sebuah nasihat bijak mengingatkan agar kita melakukan segala pekerjaan dalam kasih. Kasih berarti lebih mengutamakan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain daripada kebutuhan atau kepentingan diri sendiri.

Tuhan sudah mencurahkan kasih-Nya yang besar dalam kehidupan kita. Ia menginginkan agar kita hidup di dalam kasih dengan melayani orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan.

Kasih Tuhan menjadi nyata sewaktu kita mulai memedulikan orang lain dan menolong mereka. Melalui kita orang percaya, kasih Tuhan yang tidak kelihatan dapat dialami dan dirasakan oleh orang banyak. —Istiasih

Kasih, seperti kehangatan, memancar dari segala sisi dan memenuhi setiap kebutuhan saudara kita. ~Martin Luther

* * *

Sumber: e-RH, 16/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

31 Januari 2013

Kisah Seorang Pengayuh Becak


Bai Fang Li, pengayuh becak dari Tianjin, China, tinggal di gubuk tua, di lingkungan kumuh tempat para pengayuh becak dan pemulung tinggal.

Tak ada perabotan berharga di rumahnya. Ia hanya punya satu piring dan satu gelas kaleng sebagai alat makan. Ia tidur beralaskan karpet lama dengan selembar selimut tua sebagai penghangat, dan hanya diterangi lampu minyak.

Penghasilan Bai sebenarnya dapat membuatnya hidup lebih layak. Namun, sejak usia 74, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke sebuah panti asuhan di Tianjin, yang menampung 300 anak dan mengelola sekolah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ketika pada umur 91 tahun ia tak sanggup lagi mengayuh becak, Bai telah menyumbangkan uang sebesar 350.000 yuan (Rp 472.500.000)! Meski tak berlimpah harta, ia memutuskan untuk tidak memikirkan diri sendiri dan berani memberi.

Peresmian patung dada Bai Fang Li untuk mengenang jasanya.

Bila manusia hanya memikirkan diri sendiri, berarti ia sedang mengikuti hikmatnya sendiri. Dari situ, bisa timbul kekacauan dan kejahatan. Bagaimana tidak? Kerap karena mengejar keinginan sendiri, manusia lantas menghalalkan segala cara. Padahal, keinginan adalah sesuatu yang tak pernah dapat terpuaskan.

Hikmat yang dari atas (dari Tuhan) berkebalikan dengan itu. Jika Tuhan berdiam di dalam diri kita, Dia akan mengubah cara kita mengingini sesuatu.

Tuhan akan menolong kita untuk berhenti menyenangkan diri sendiri, serta bertumbuh semakin dewasa dengan menyenangkan Tuhan dan melayani sesama. —Agustina Wijayani

Keegoisan tak pernah dapat dipuaskan. Hanya bersama Tuhan hidup kita dipenuhkan.

* * *

Sumber: e-RH, 31/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Bai Fang Li

==========

28 Januari 2013

Ditemukan Karena Mirip


Kami kehilangan kontak dengan seorang saudara laki-laki kami selama 15 tahun. Berita terakhir yang kami dapat, ia berada di sebuah kota di Kalimantan Selatan, telah menikah dengan wanita setempat, serta telah berganti agama dan identitas.

Pada pertengahan 2011, dua abang saya (salah satunya seorang angota TNI) mencarinya, tanpa alamat.

Mereka bertanya kepada para kepala desa, ketua-ketua RT dan RW, tetapi tidak ada yang tahu. Mereka mencari komunitas-komunitas suku Batak, tetapi tidak mendapatkan informasi yang berarti. Setelah semua cara dilakukan, mereka menyerah, dan bersiap pulang dengan tangan hampa.

Ketika sepeda motor mereka berhenti di tepi jalan, seorang pemuda mendekati mereka dan bertanya, "Bapak kok mirip sekali dengan abang yang di sana itu?" Lalu mereka mengikuti pemuda itu ke sebuah daerah perkebunan yang cukup jauh. Puji Tuhan, mereka menemukan abang saya.


Cara Tuhan sering kali tak terduga dan berbeda dari pemikiran kita, namun tetap yang terbaik.

Dalam kisah Naaman di Perjanjian Lama, Naaman mendatangi Nabi Elisa agar disembuhkan dari sakit kustanya. Ia sudah memiliki konsep tersendiri tentang bagaimana nabi Allah itu akan mengatasi masalahnya.

Lalu ia disuruh mandi tujuh kali ke dalam sungai Yordan. Hanya itu, namun ia menolaknya. Cara Tuhan itu sama sekali lain dari bayangannya semula.

Berkat nasihat bijak para pegawainya, akhirnya ia taat. Hasilnya, ia pun sembuh.

Manusia sering kali mengambil peran Tuhan dalam melakukan sesuatu. Mereka membatasi Tuhan sehingga akhirnya gagal melihat-Nya berkarya.

Bersikap terbukalah kepada-Nya dan taatilah Dia, maka Anda akan terpesona akan Dia. —Heman Elia

* * *

Sumber: e-RH, 28/1/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Karena Mirip

==========

Artikel Terbaru Blog Ini