<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204</id><updated>2011-07-08T19:00:30.148+07:00</updated><title type='text'>Kisah-kisah Menyentuh Hati</title><subtitle type='html'>Kisah menyentuh hati adalah kisah yang mengharukan, menimbulkan kekaguman, dan memberi semangat hidup. Kisah-kisah tersebut dimuat di sini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap pribadi-pribadi pelaku utama kisah tersebut.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-2394680854147648112</id><published>2011-02-15T09:25:00.001+07:00</published><updated>2011-02-15T09:26:45.872+07:00</updated><title type='text'>Melayani Sesuai Profesi</title><content type='html'>Dokter Brackett tinggal di sebuah kota kecil di Amerika. Orang mengenalnya sebagai sahabat orang miskin, karena ia banyak menghabiskan waktunya untuk mengobati dan merawat orang-orang miskin yang sakit. Ia juga tidak memungut biaya apa pun dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia tinggal di lantai atas sebuah ruko, maka pada anak tangga paling bawah menuju tempat tinggalnya terdapat tulisan: “DR. BRACKETT – KANTOR DI LANTAI ATAS”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian yang besar terhadap orang-orang miskin dan kepada siapa pun di sekitarnya menyebabkan dokter berbudi ini kehilangan kekasih yang akan dinikahinya. Kekasihnya merasa bahwa sang dokter lebih banyak menghabiskan waktunya dengan orang-orang sakit daripada dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dokter ini meninggal dunia, acara penguburannya merupakan yang terbesar yang pernah terjadi di kota itu. Untuk mengenang kebaikan hati sang dokter, penduduk kota mendiskusikan rencana untuk mendirikan monumen bagi dokter yang telah tiada tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang seusai pertemuan diskusi, sepasang suami istri berkebangsaan Meksiko yang telah dibantu secara khusus oleh dokter tersebut, menanggalkan papan pada anak tangga menuju tempat tinggal dokter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari berikutnya mereka memancangkan papan berisi tulisan: “DR. BRACKETT – KANTOR DI LANTAI ATAS” itu di atas makam sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesama melalui berbagai bidang kehidupan. Ada orang yang dipanggil untuk melayani sepenuh waktu sebagai rohaniwan, ada yang dipanggil untuk melayani melalui profesi lain, seperti: guru, dokter, pedagang, pengusaha, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi sebagai rohaniwan tidak lebih baik dari profesi sebagai guru atau sebaliknya. Yang penting kita bisa melayani Tuhan dan sesama melalui profesi yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter bisa melayani melalui profesinya dengan cara mengabdi sepenuh hati dan tulus pada profesinya. Dalam profesi apa pun, lakukanlah dengan kasih yang sungguh-sungguh, sehingga semua orang bisa melihat Tuhan yang ada dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang merasa bahwa hidupnya kurang berkenan kepada Tuhan karena tidak melayani sepenuh waktu sebagai rohaniwan. Ini adalah pemahaman yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun profesi anda saat ini, mintalah hikmat dan kemampuan dari Tuhan agar anda bisa menyatakan kasih Tuhan melalui profesi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manna Sorgawi, 15 Februari 2011 (diedit seperlunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan oleh Paulus Herlambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-2394680854147648112?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/2394680854147648112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/2394680854147648112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2011/02/melayani-sesuai-profesi.html' title='Melayani Sesuai Profesi'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-7925568655909740553</id><published>2011-01-29T09:41:00.001+07:00</published><updated>2011-01-29T09:42:56.282+07:00</updated><title type='text'>Rasakan Bedanya!</title><content type='html'>Anak lelaki kurus itu berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh di punggungnya. Melihatnya, seseorang berkomentar prihatin, "Kasihan kau, Nak. Bebanmu pasti berat." Lalu terdengar jawaban spontan, "Pak, ia bukan beban, ia saudaraku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ilustrasi di balik lirik lagu pop balada karangan Bobby Scott dan Bob Russel, &lt;em&gt;He Ain't Heavy, He's My Brother&lt;/em&gt;. Suatu perbuatan yang dipandang beban oleh seseorang, nyatanya tidak bagi yang lain. Tergantung alasan ia melakukannya. Jika ia melakukannya karena rasa cinta, pasti akan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Yakub (Nabi Ya'qub, putra Nabi Ishaq bin Ibrahim) sedang digetarkan oleh cinta yang besar kepada Rahel (Rahil). Demi cintanya, ia bersedia mengabdi kepada Laban tujuh tahun penuh, sebelum meminang Rahel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ia tidak asal bekerja. Ia tidak bekerja keras demi harta. Namun, demi dan karena cinta. Ia bekerja dengan hati penuh cinta. Itulah yang memberinya tekad, semangat, kekuatan, dan ketekunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hasilnya? Pengabdian selama tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. Sangat berbeda, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kekuatan terbesar dalam hidup ini? Jawabnya: cinta yang bersumber dari Tuhan. Banyak hal yang tampak menjengkelkan, melelahkan, dihindari orang, dapat dilakukan dengan setia oleh pelakunya. Mengapa? Karena cinta membuat mereka punya cara pandang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merawat luka yang berbau, seperti dilakukan oleh para misionaris "Cinta Kasih" yang dipimpin Ibu Teresa. Merawat suami yang sakit. Mendampingi anak belajar, meski lelah. Mengantar nenek berobat rutin. Memasak untuk orang banyak. Semua akan terasa berbeda jika dilakukan karena dan dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COBALAH MELAKUKAN SESUATU KARENA DAN DENGAN CINTA, LALU RASAKAN BEDANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: e-RH, 29 Januari 2011 (diedit seperlunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagikan oleh Paulus Herlambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-7925568655909740553?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/7925568655909740553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/7925568655909740553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2011/01/rasakan-bedanya.html' title='Rasakan Bedanya!'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-8659313176548228059</id><published>2009-11-19T10:02:00.001+07:00</published><updated>2009-11-19T10:04:02.830+07:00</updated><title type='text'>Keterbatasan Ibu Isti Rohanah</title><content type='html'>Ternyata kisah tentang kasih yang dialirkan dalam keterbatasan tidak hanya ada di luar negeri saja, tetapi di sekitar kita pun ada. Mengapa tidak terekspos? Mungkin karena tidak ada yang memerhatikan dan kita tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan kisah-kisah sederhana, namun menginspirasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Isti Rohanah adalah seorang koster atau petugas kebersihan gereja. Kegiatannya sehari-hari membersihkan lantai, mengatur kursi, menggelar karpet, dan mempersiapkan ruang ibadah di GBI Jl. Tampak Siring, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal almarhum suaminya, Ibu Isti harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia berjuang keras untuk mendidik dan membesarkan kelima orang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Isti dan anak-anaknya tinggal di rumah yang sebenarnya tidak layak huni. Namun rumahnya yang sudah lapuk dan berlantaikan tanah, dijadikan tempat untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak kurang mampu yang ada di lingkungannya. Rumah itu dijadikan tempat bimbingan belajar (bimbel) di daerah Pedongkelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbel di rumah Ibu Isti dimulai pada awal 2008, saat pasangan Bapak Eli dan Ibu Anna membagikan kerinduannya untuk memberikan bimbel secara gratis bagi anak-anak di sekitar Pedongkelan, namun tidak memiliki tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Bapak Eli dan Ibu Anna telah memulai bimbel pada tahun 2005, namun kegiatan itu terhenti karena rumah yang mereka tempati dulu tidak terbuka lagi. Ketika mendengar kesulitan itu, Ibu Isti menawarkan rumahnya sebagai tempat bimbel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kasihan sama anak-anak, karena mereka sebenarnya sangat antusias ikut bimbel. Saya membuka rumah ini untuk dipakai sebagai tempat bimbel. Hanya inilah yang dapat saya lakukan. Dalam doa, saya berkata kepada Tuhan bahwa saya tidak memiliki apa-apa. Namun apa yang ada pada saya, akan dipersembahkan untuk Tuhan. Biarlah rumah saya bisa menjadi berkat bagi lingkungan di sekitar sini,” kata Ibu Isti ketika diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memiliki hati yang peduli, ada satu teladan lagi yang ditunjukkan wanita mandiri ini. Di tengah-tengah kesibukan dan keterbatasannya, Ibu Isti berkomitmen untuk melayani Tuhan. Setiap Minggu pagi dia hadir di gereja untuk bekerja dan sore harinya ia melayani sebagai pendoa syafaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merasa ada yang hampa kalau tidak beribadah dan melayani. Hidup ini kan bukan hanya urusan pekerjaan di dunia saja,” komentar wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi saluran berkat di dalam kelimpahan adalah baik, tetapi menjadi berkat di dalam keterbatasan itu baru luar biasa! Jadi, meskipun kita sarat dengan keterbatasan, paculah diri kita untuk menjadi berkat di mana pun kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok janda di Sarfat dicatat di Alkitab dalam kitab 1 Raja-raja 17:7-16 karena ia bersedia menjadi berkat di dalam keterbatasannya. Nabi Elia terpelihara dalam sisa masa kelaparan yang panjang karena janda itu membuka dirinya untuk menjadi saluran berkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukanlah di sisi kehidupan mana kita bisa menjadi berkat dan mulailah membuka diri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Doa:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tuhan, aku tidak akan membiarkan kelemahan dan keterbatasan menjadi penghalang untuk menyalurkan kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manna Sorgawi, 19 November 2009 (diedit seperlunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/profile/10532221403391756597"&gt;Paulus Herlambang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-8659313176548228059?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/8659313176548228059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/8659313176548228059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2009/11/keterbatasan-ibu-isti-rohanah.html' title='Keterbatasan Ibu Isti Rohanah'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-2089362417358412476</id><published>2007-05-01T08:30:00.001+07:00</published><updated>2007-05-01T08:30:59.794+07:00</updated><title type='text'>Taplak Meja Kenangan</title><content type='html'>Pada tahun 1960-an ada seorang pendeta muda yang setia melayani walaupun kondisi jemaatnya sangat sederhana dengan bangunan gereja yang sudah sangat buruk dan salah satu sisi dindingnya berlubang cukup besar akibat badai. Ia hanya berdoa untuk perbaikan dinding gereja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang ia pergi ke tempat pelelangan dan membeli sehelai taplak meja berenda yang berwarna keemasan. Tidak ada orang yang tertarik dengan taplak tersebut karena ukurannya sangat besar. Namun pendeta ini berpikir bahwa taplak itu akan berguna untuk menutup lubang di dinding gerejanya. Ia berhasil membelinya dengan harga 6 dolar dan pulang dengan hati gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di halte bus dekat gereja, ia berhenti karena melihat seorang wanita tua yang menggigil kedinginan. Ia menghampiri wanita itu, memperkenalkan diri dan menawarkan tempat istirahat di gereja untuk menghangatkan badannya. Wanita itu menerima ajakan sang pendeta dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempersilakan wanita itu duduk, ia langsung menutup lubang di dinding gerejanya dengan taplak meja tersebut. Karena sudah merasa cukup hangat, wanita itu menghampiri sang pendeta dan ia terpaku ketika melihat taplak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kain itu mengingatkanku akan taplak meja milikku yang diberikan oleh suamiku,” katanya dengan suara lirih. Sambil menangis ia mengamati taplak meja itu dan melihat apa yang tersulam di bagian sudutnya. “Ini inisialku,” katanya dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menceritakan bahwa sebelum Perang Dunia II, ia adalah seorang wanita kaya di Wina, Austria. Perang menyebabkan ia harus kehilangan keluarga dan hartanya. Ia baru saja melamar pekerjaan sebagai pengasuh anak, tetapi gagal. “Mungkin aku terlalu tua,” katanya putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usai kebaktian sore, banyak jemaat yang mengomentari taplak meja tersebut. Seorang pria seakan terhipnotis oleh taplak meja itu, lalu menghampiri sang pendeta dan menceritakan bahwa dulu ia pernah memberikan taplak serupa kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dulu tinggal di Wina sebelum Hitler menyatakan perang. Dalam suasana kacau seluruh keluargaku menghilang. Aku mencari mereka, namun mereka dinyatakan meninggal. Aku tidak sanggup tinggal di Wina sehingga memutuskan untuk menetap di Amerika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, akhirnya pria itu bersatu kembali dengan istrinya. Setelah bertahun-tahun berpisah, mereka dipersatukan oleh taplak meja yang pernah menghiasi hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun dapat membuat kita lupa atau terpisah dengan orang yang kita kasihi. Perang, kesalahpahaman, uang, harta, warisan, keegoisan, cemburu, sifat yang tidak mau mengalah, kekerasan hati, kekecewaan, penganiayaan, kelaparan, dan sebagainya. Namun hanya satu yang dapat mempersatukan kita kembali, yaitu kasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Renungan Harian &lt;em&gt;Manna Sorgawi&lt;/em&gt;, 26 Mei 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-2089362417358412476?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/2089362417358412476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/2089362417358412476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2007/05/taplak-meja-kenangan.html' title='Taplak Meja Kenangan'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-1198304445632923588</id><published>2007-04-03T08:55:00.000+07:00</published><updated>2007-04-12T10:36:44.506+07:00</updated><title type='text'>Pengorbanan Seorang Ibu</title><content type='html'>Pada akhir tahun 1863, di Wales Selatan, seorang ibu berjalan kaki sambil menggendong bayinya menuju ke suatu tempat. Tiba-tiba datang badai salju menyerang sang ibu dan bayinya. Karena hebatnya badai tersebut, tidak seorang pun yang berani keluar untuk menolong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian badai reda. Beberapa orang berusaha mencari sang ibu dan bayinya. Setelah beberapa saat mencari, mereka menemukan sang ibu telah menjadi mayat, tertutup salju tebal. Mereka sangat heran karena ternyata sang ibu telah melepaskan mantel bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka mengangkat mayatnya, mereka menemukan sang bayi yang masih hidup dengan dibalut mantel hangat di bawah badan ibu tersebut. Sang ibu tidak lagi mempedulikan keselamatannya. Ia hanya menginginkan agar bayinya dapat selamat, walaupun ia harus mengorbankan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi tersebut kemudian bertumbuh dewasa dan menjadi seorang negarawan besar, yakni perdana menteri Inggris yang memerintah pada 1916 – 1922. Ia adalah David Lloyd George (1863 – 1945).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;em&gt;50 Renungan yang Membawa Berkat&lt;/em&gt;, Chandra Suwondo, Metanoia Publishing, 2006, hlm. 4 – 5.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-1198304445632923588?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/1198304445632923588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/1198304445632923588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2007/04/pengorbanan-seorang-ibu.html' title='Pengorbanan Seorang Ibu'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7218584566939217204.post-8927039792865323812</id><published>2007-03-13T09:26:00.000+07:00</published><updated>2007-04-12T10:09:28.966+07:00</updated><title type='text'>Kemurahan di Tengah Penderitaan</title><content type='html'>Banjir besar kembali melanda Jakarta awal Februari 2007. Kali ini jauh lebih dahsyat daripada banjir serupa lima tahun sebelumnya. Di tengah penderitaan begitu banyak orang, ada seseorang yang bersedia membuka rumahnya untuk menampung sekitar 80 pengungsi korban banjir. Ia adalah Ulf Samuelsson, Wakil Duta Besar Swedia untuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengungsi itu adalah tetangganya, penduduk kampung di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Ternyata, di balik deretan rumah besar nan asri serta kafe-kafe elite di kawasan itu, tersembunyi perkampungan sederhana yang padat di tepi Kali Krukut. Banjir besar 2007 nyaris menenggelamkan perkampungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomat muda berusia 32 tahun itu mengaku tidak punya alasan khusus ketika memutuskan untuk membuka rumahnya. Ia berkata, "Kenapa tidak? Rumah saya lebih tinggi, kering, ada ruang cukup luas, ada kamar mandi, ada dapur untuk masak. Dan tetangga saya kebanjiran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 1 Februari 2007 malam menjadi momen yang tak terlupakan dalam hidupnya. Ketika pulang ke rumah sekitar pukul 23.00, Ulf menyaksikan jalan kecil di depan rumahnya telah berubah menjadi sungai yang berarus deras. Di tengah deraian hujan, penduduk kampung berlarian kalang kabut sambil menggendong anak kecil dan membawa barang sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, Ulf segera mempersilakan mereka untuk masuk ke rumahnya. Ibu Ida, seorang tetangganya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di rumah itu, langsung bertugas sebagai koordinator pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi saya malu juga waktu itu. Ternyata saya &lt;em&gt;enggak&lt;/em&gt; punya makanan. &lt;em&gt;Enggak&lt;/em&gt; punya apa-apa. Ya, saya tinggal sendiri, sering makan di luar atau beli bakso yang lewat saja," ujar Ulf yang masih membujang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bu Ida, malam itu Ulf lalu membelikan mi instan dan air minum kemasan. Tak hanya seluruh ruang pribadinya yang dibuka lebar-lebar bagi para pengungsi. Tumpukan pakaian di lemarinya, selimut, hingga seluruh handuknya pun diserahkan kepada para pengungsi. Sampai-sampai Ulf sendiri sempat tak punya handuk untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 2 Februari 2007, sekitar pukul 04.00, barulah Ulf tertidur setelah mengemong anak-anak para pengungsi dengan membacakan cerita &lt;em&gt;The Hobbit&lt;/em&gt; dalam bahasa Indonesia. "Saya pikir mereka perlu ditenangkan waktu itu," ujar sarjana Ilmu Politik dari Universitas Uppsala di Swedia yang fasih berbahasa Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas, 20 Februari 2007, hlm. 16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7218584566939217204-8927039792865323812?l=kisahmenyentuhhati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/8927039792865323812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7218584566939217204/posts/default/8927039792865323812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kisahmenyentuhhati.blogspot.com/2007/03/kemurahan-di-tengah-penderitaan.html' title='Kemurahan di Tengah Penderitaan'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry></feed>
